15 November 2012 - , 0 komentar

PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA

A. PERIODE SEBELUM KEMERDEKAAN
Perkembangan kurikulum di indonesia dari periode sebelum tahun 1945 sampai yang sekarang ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang sering disebut KTSP. Selama proses pergantian Kurikulum tidak ada tujuan lain hanya untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, rancangan pembelajaran yang ada di sekolah.
Kurikulum pada masa VOC Kurikulum sekolah-sekolah selama VOC bertalian erat dengan gereja. Menurut Hereen XVII, badan tertinggi VOC di negeri Belanda yang tertidi atas 17 orang anggota, tahun 1617, gubernur di Indonesia harus menyebarluaskan agama Kristen dan mendirikan sekolah untuk tujuan itu. Menurut peraturan sekolah 1643 tugas guru dalah memupuk rasa tajkut kepada Tuhan , mengajarkan dasar agama Kristen , mengajak anak berdoa, bernyanyi , pergi ke gereja, mematuhi orang tua, penguasa, dan guru-guru. Walaupun tak ada kurikulum yang ditentukan biasanya sekolah menyajikan pelajaran tentang ketekismus, agama, juga membaca , menulis dan menyanyi.Demikian pula tidak ditentukan lama belajar. Peraturan hanya menentukan bahwa anak pria lebih dari usia 16 tahun dan anak wanita lebih dari 12 tahun hendaknya jangan dikeluarkan dari sekolah. Pembagian dalam 3 kelas untuk pertama kali dimulai pada tahun 1778. Di kelas 3, kelas terendah, anak-anak belajar abjad,
di kelas 2 memaca, menulis, dan bernyanyi dan di kelas 1, kelas tertinggi: membaca, menulis, katekismus, bernyanyi dan berhitung.

B. PERIODE PASCA KEMERDEKAAN
1. Masa setelah merdeka sampai 1952
Atas usul dari Badan Pekerja KNIP, pada bulan Desember 1945 dibentuklah Panitia Penyelidikan Pendidikan oleh Menteri Pendidikan Pngajaran dan Kebudayaan (PPdanK). Setelah NKRI resmi menjadi Negara kesatuan pada tanggal 17 agustus 1950, pendidikan pun disatukan kembali, keadaan ini berlangsung sampai tahun 1952.
2. Sejak tahun 1952 sampai 1964
Pada masa ini, pendidikan di Indonesia mengalami penyempurnaan. Tujuan pendidikan dan pegajaran RI pada waktu itu adalah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

3. Sejak tahun 1964 sampai 1965
Kurikulum ini merupakan perbaikan dari kurikulum sebelumnya. Pada tahun 1964, direktorat pendidikan dasar/prasekolah, departemen PP DAN K, menerbitkan suatu buku yang dinamakan "Rencana pendidikan taman kanak-kanak dan sekolah dasar".
Tujuan pendidikan pasa masa ini adalah membentuk manusia Pancasila dan Manipol/Usdek yang bertanggungjawab atas terselenggaranya amsyarakat adil dan makmur, materiil dan spiritual. System pendidikannya dinamakan Sistem Panca Wardana atau system lima aspek perkembangan, yaitu: perkembangan moral, perkembangan inteligensi, perkembang emosional artistic (rasa keharuan), perkembangan keprigelan, dan perkembangan jasmaniah.
Kelima wardana tersebut diuraikan menjadi beberapa bahan pelajaran, yakni:
a. Perkembangna moral: PKN, pendidikan agama/budi pekerti.
b. Perkembangan inteligensi: bahasa Indonesia, baahsa daerah, berhitung,
dan pengethuan alamiah
c. Perkembangan emosional/artistic: seni sanstra/music, seni lukis/rupa, seni tari, dan seni sastra/drama.
d. Perkembangan keprigelan: pertanian/peternakan, industry kecil/pekerjaan tangan koperasi/tabungan, dan keprigelan2 yang lainnya
e. Perkembangan jasmaniah: pendidikan jasmaniah, pendidikan kesehatan.
Kurikulum sekolah dasar tahun 1964 dapat dikategorikan sebagai Correlated Curriculum.

4. Kurikulum Sekolah Dasar sejak Orde Baru (1965) sampai 1968
Pemerintah pada tahun 1968, menerbitkan buku Pedoman Kurikulum Sekolah Dasar yang dinamakan kurikulum SD, yang di dalamnya berbau politik ORLA (Orde Lama). Perubahan-perubahan terletak pada landasan pendidikannya yang berdasarkan Falsafah Negara Pancasila. Uraiannya sebagai berikut:
a. Dasar Pendidikan Nasional
Dasar pendidikan nasional adalah falsafah Negara pancasila (ketetapan MPRS No. XXVI/MPRS/1966 Bab II Pasal 2)
b. Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional ialah membentuk manusia pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dihendaki oleh Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 dan Isi UUD '45 (Ketetapan MPRS No. XXVII/Bab II Pasal 3)

c. Isi Pendidikan Nasional
Untuk mencapai dasar dan tujuan di atas, isi pendidikan adalah:
1) Mempertinggi mental budi pekekrti dan memperkuat keyakinan agama
2) Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan
3) Membina dan mempertimbangkan fisik yang kuat dan sehat (Ketetapan MPRS No.XXVII/MPRS/1966 Bab II Pasal 4).

Kurikulum Sekolah Dasar 1968 dibagi menjadi 3 kelompok besar:
a. Kelompok pembinaan Pancasila:
Pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan olahraga.
b. Kelompok pembinaan Pengetahuan Dasar:
Berhitung, ilmu pengetahuan alam, pendidikan kesenian, pendidikan kesejahteraan keluarga (termasuk ilmu kesehatan).
c. Kelompok kecakapan khusus:
Kejuruan agraria (Pertanian, peternakan, perikaan), Kejuruan teknik (pekerjaan tangan/perbekalan), Kejuruan ketatalaksanaan/jasa (koperasi, tabungan).

C. ORDE LAMA DAN ORDE BARU
1. Periode Tahun 1945 Sampai Tahun 1968
(Masa Kemerdekaan dan Pemerintahan Orde Lama)
a. Kurikulum 1947, Rentjana Pelajaran 1947
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam bahasa Belanda leer plan artinya rencana pelajaran, istilah ini lebih popular disbanding istilah curriculum (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikanditetapkan Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutanRentjana Pelajaran 1947, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950.
Bentuknya memuat dua hal pokok:
a) Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,
b) Garis-garis besar pengajaran.
Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakansebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakanadalah : pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajarandihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

b. Kurikulum 1952, Rentjana Pelajaran Terurai 1952
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yangkemudian diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligusciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannyamenunjukkan secara jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran, (Djauzak Ahmad, Dirpendas periode1991-1995).

c. Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana(Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan,dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan dayacipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatanfungsional praktis.


2. Periode Tahun 1968 Sampai Tahun 1999
(Masa Pemerintahan Orde Baru)
a. Kurikulum 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasilasejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani,moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Dalam kurikulum ini tampak dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran:kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

b. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Menurut Drs Mudjito; Ak; Msi (Direktur Pemb. TK dan SD Depdiknas). yang melatar belakangi lahirnya kurikulum ini adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu
MBO (management by objective) yang terkenal saat itu," Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yangdikenal dengan istilah "satuan pelajaran", yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuaninstruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar,dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibuat sibuk menulis rincian apayang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran

c. Kurikulum 1984
Kurikulum 1975 yang Disempurnakan Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut "Kurikulum1975 yang disempurnakan". Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).
CBSA merupakan suatu upaya dalam pembaharuan pendidikan dan pembelajaran pada saat itu. Pendekatannya menitikberatkan pada keaktifan siswa yang merupakan inti dari kegiatan belajar. Dalam CBSA kegiatan belajarnya diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, membentuk gagasan, menyusun rencana dan sebagainya. Adapun kegiatan yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan lembar Kerja
2. Menyususn tugas bersama siswa
3. Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan di susun.
4. Memberikan bantuan dan pelayanan apabila siswa mendapat kesulitan
5. Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan
6. Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan umum.
7. Memberikan bantuan dan pelayanan khusus kepada siswa yang lamban
8. Menyalurkan bakat dan minat siswa
9. Mengamati setiap aktivitas siswa.
d. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 Perkembangan Kurikulum
Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materimuatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezimSoeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambai sejumlah materi.

0 komentar:

Poskan Komentar