15 November 2012 - , 0 komentar

PENGEMBANGAN KURIKULUM

PENGEMBANGAN KURIKULUM

A. DEFINISI
Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belaar-mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber-sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan proses belajar-mengajar.
Beachamp mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan teori kurikulum, yaitu (Ibrahim, 2006):
1) Setiap teori kurikulum harus dimulai dengan perumusan (definisi) tentang rangkaian kejadian yang dicakupnya.
2) Setiap kurikulum harus mempunyai kejelasan tentang nilai-nilai dan sumber-sumber yang menjadi titik tolaknya.
3) Setiap teori kurikulum perlu menjelaskan karakteristik desain kurikulumnya.
4) Setiap teori kurikulum harus menggambarkan proses-proses penentuan kurikulum serta interaksi diantara proses tersebut.
5) Setiap kurikulum hendaknya mempersiapkan ruang untuk dilakukannya proses penyempurnaan.

Pengembangan kurikulum berdasarkan prinsip-prinsip, antara lain sebagai berikut:
1) Prinsip Berorientasi pada Tujuan, pengembangan kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolak dari tujuan pendidikan nasional.
2) Prinsi Relevansi (kesesuaian), pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan sistem penyampaiannya harus relevan (sesuai) dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembagan dan kebutuhan siswa, serta serasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3) Prinsip Efisiensi dan Efektivitas, pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan segi efisien dalam pendayagunaan dana, waktu, tenaga, dan sumber-sumber yang tersedia agar dapat mencapai hasil yang optimal.
4) Prinsip Fleksibilitas (keluwesan), kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah, dilegkapi, atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak kaku.
5) Prinsip berkesinambungan (kontinuitas), kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya bagian-bagian, aspek-asoek, dan bahan kajian disuusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan satu sama lain memiliki hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur dalam satuan pendidikan, tingkat perkembangan siswa.
6) Prinsip Keseimbangan, penyusunan kurikulum supaya memperhatikan keseimbangan secara proporsional dan fungsional antara berbagai program dan sub-program, antara semua mata ajaran, dan antara aspek-aspek perilaku yang ingin dikembangkan.
7) Prinsip Keterpaduan, kurikulum dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keterpaduan.
8) Prinsip Mutu, pengembangan kurikulum berorientasi pada pendidikan mutu dan mutu pendidikan.

Disini terdapat beberapa karakteristik dalam pengembangan kurikulum, antara lain sebagai berikut:
1) Rencana kurikulum harus dikembangkan dengan tujuan (goals dan general objectives) yang jelas. Salah satu maksud utama rencana kurikulum adalah mengidentifikasi cara untuk tercapainya tujuan.
2) Suatu program atau kegiatan yang dilakukan disekolah merupakan bagian dari kurikulm yang dirancang selaras dengan prosedur pengembangan kurikulum.
3) Rencana kurikulum yang baik dapat menghasilkan terjadinya proses belajar yang baik, karena berdasarkan kebutuhan dan minat siswa.
4) Rencana kurikulum harus mengenalkan dan mendorong diversitas sianata para pelajar. Proses belajar akan menyenangkan jika rencana kurikulum menyediakan berbagai kesempatan yang memungkinkan mereka mengembangkan potensi pribadi, melakukan berbagai sumber disekolah.
5) Rencana kurikulum harus menyiapkan semua aspek situasi belajar-mengajar, seperti tujuan, konten, aktifitas, sumber, alat pengukuran, penjadwalan, dan fasilitas yang menunjang.
6) Rencana kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa pengguna. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mengandung gagasan yang jelas tentang tahapan kognitif, kebutuhan perkembangan, gaya belajar, prestasi awal, konsep diri sebagai pelajar, dan lain-lain.
7) The subject arm approach adalah pendekatan kurikulum yang banyak digunakan disekolah.
8) Rencana kurikulum harus memberikan fleksibilitas untuk memungkinkan terjadinya perencanaan guru-siswa.
9) Rencana kurikulum harus memberikan fleksibilitas yang memungkinkan masuknya ide-ide spontan selama terjadinya interaksi antara guru dan siswa dalam situasi belajar yang khusus.
10) Rencana kurikulum sebaiknya merefleksikan keseimbangan antara kognitif, afektif, dan psikomotor.

Landasan pengembangan kurikulum disusun untuk tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian.
Berdasarkan ketentuan dan konsep-konsep tersebut, pengembangan kurikulum agar berlandaskan faktor-faktor sebagai berikut:
1) Tujuan filsafat dan pendidikan nasional yang dijadikan sebagai dasaruntuk merumuskan tujuan institusioal yang pada gilirannya menjadi landasan dalam merumuskan tujuan kurikulum suatu satuan pendidikan.
2) Sosial budaya dan agama yang berlaku dalam masyarakat kita.
3) Perkembangan peserta didik, yang menunjuk pada karakteristik perkembangan peserta didik.
4) Keadaan lingkungan, yang dalam arti luas meliputi lingkungan manusiawi, lingkungan kebudayaan termasuk iptek, dan lingkungan hidup, serta lingkngan alam.
5) Kebutuhan pembangunan, yamg mencakup kebuthan pembangunan dibidang ekonomi, kesejahteraan rakyat, hukum, hankam, dan sebagainya.
6) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan sistem nilai dan kemanusiawian serta budaya bangsa.

B. KERANGKA PENGEMBANGAN KURIKULUM
Pengembangan kurikulum ini harus mengacu pada sebuah kerangka umum, yang berisikan hal-hal yang diperlukan dalam pembuatan keputusan.

1. Asumsi
Asumsi yang digunakan dalam pengembangan kurikulum ini menekankan pada keharusan pengembangan kurikulum yang telah terkonsep dan diinterprestasikan dengan cermat, sehingga upaya-upaya yang terbatas dalam reformasi pendidikan, kurikulum yang tidak berimbang, dan inovasi jangka pendek dapat dihindarkan.
Dalam konteks ini, kurikulum didefinisikan sebagai suatu rencana untuk mencapai hasil-hasil yang diharapkan, atau dengan kata lain suatu rencana mengenai tujuan, hal yang dipelajari, dan hasil pembelajaran. Dengan demikian, kurikulum terdiri atas beberapa komponen, yaitu hasil belajar dan struktur (sekuens bebagai kegiatan belajar).
Konsekuensi lebih jauh dari keharusan penggunaan dasar teoritis untuk pengebangan kurikulum adalah pada pembelajaran (instruction). Pembelajaran adalah proses mengajar, yaitu menyiapkan longkungan mengajar agar siswa dapat berinteraksi dengan orang, benda, tempat, dan ide melalui penyampaian kurikulum. Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses perencanaan yang kompleks, mulai dari penilaian kebutuhan, identifikasi hasil-hasil belajar yang diharapkan, serta persiapan pembelajaran untuk mencapai tujuan dan pemenuhan kebutuhan budaya, sosial, dan personal.
Pengembangan kurikulum melibatkan banyak keputusan pada beberapa level yang berbeda, seperti anak-anak usia persekolahan, SD, sekolah lanjutan (SLTP dan SMU), dan perguruan tinggi (termasuk pendidikan kejuruan). Pengembangan kurikulum dapat difokuskan pada unit yang sangat terbatas, misalnya pada satu guru dan satu siswa, samapi pada scope yang luas dengan melibatkan kelompok besar, misalnya kelompok guru disuatu daerah atau negara.
Dilihat dari aspek ruang lingkup pengembangan kurikulum, tersirat adanya sejumlah pilihan untuk melakukan pengembangan kurikulum. Akibat terjadinya pertentangan antarkonsepsi kurikulum, hal ini dapat memunculkan kontroversi disekolah atau dalam masyarakat. Oleh karena itu, administrator sekolah hendaknya memahami secara mendalam perbedaan orientasi bebagai konsep kurikulum tersebut.
Dalam pengembangan kurikulum, kepemimpinan yang efektif bergantung pada kemampuan menjelaskan dan menerapkan pendekatan dalam tercapainya tujuan kurikulum, serta melibatkan orang lain dalam proses perencanaan dan implementasinya.



2. Tujuan Pengembangan Kurikulum
Istilah yang digunakan untuk menyatakan tujuan pengembangan kurikulum adalah goals dan objectives. Tujuan sebagai goals dinyatakan dalam rumusan yang lebih abstrak dan bersifat umum, dan pencapaiannya relatif dalam jangka panjang. Adapun tujuan sebagai objectives lebih bersifat khusus, operasional, dan pencapaiannya dalam jangka pendek.
Aspek tujuan, baik yang dinyatakan dalam goals maupun objectives, memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum. Tujuan berfungsi untuk menentukan arah seluruh upaya kependidikan sekolah atau unit organisasi lainnya, sekaligus menstimulasi kualitas yang diharapkan. Berbagai kegiatan lain dalam pengembangan kurikulum, seperti penentuan ruang lingkup, sekuensi dan kriteria seleksi konten, tidak akan efektif jika tidak berdasarka tujuan yang signifikan. Tujuan pendidikan pada umumnya berdasarkan pada filsafat yang dianut atau yang mendasari pendidikan tersebut.
Ada beberapa tujuan dalam kuriklum yang perlu dirumuskan, antara lain:
1) Tujuan erat kaitannya dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh setiap upaya pendidikan. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dengan demikian perumusan tujuan merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam sebuah kuriklum.
2) Melalui tujuan yang jelas, maka dapat membantu para pengembang kurikulum dalam mendesain model kurikulum yang dapat digunakan bahkan akan membantu guru dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya, dengan tujuan yang jelas dapat memberikan arahan kepada guru dalam menentukan bahan atau materi yang harus dipelajari, menentukan metode dan strategi pembelajaran, menentukan alat, media, dan sumber pembelajaran, srta merancang alat evaluasi untuk menentukan keberhasilan belajar siswa.
3) Tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penentapan tujuan, para pengembang kurikulum termasuk guru dapat mengontrol sampai mana siswa telah memperoleh kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku.

Filosofi yang dianut pendidikan atau sekolah biasanya menjadi dasar pengembangan tujuan. Oleh karena itu, tujuan hendaknya merefleksikan kebijakan, kondisi masa kini dan masa datang, prioritas, sumber-sumber yang sudah tersedia, serta kesadaran terhadap unsur-unsur pokok dalam pengembangan kurikulum.
Tujuan kurikulum tiap satuan pendidikan harus mengacu kearah pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-undang No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam skala yang lebih luas, kurikulum merupakan suatu alat pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai target tujuan pendidikan nasional khususnya dan sumber daya manusia yang berkualitas umumnya. Tujuan ini dikategorikan sebagai tujuan umum kurikulum.
Tujuan Mata Ajaran. Mata ajaran dikelompokkan menjadi beberapa bidang studi, yakni:
a. Bidang studi Bahasa dan Seni
b. Bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial
c. Bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam
d. Bidang stdi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

Setiap mata ajaran mempunyai tujuan sendiri dan berbeda dengan tujuan yang hendak dicapai oleh mata ajaran lainya. Tujuan mata ajaran merupakan penjabaran dari tujuan kurikulm dalam rangka mencapai tujuan pendidika nasional. Sebagai contoh, kita pilih tujuan mata ajaran berhitung, sebagai berikut:
a. Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan dasr berhitung yang praktis.
b. Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan kemampuan bepikir logis dan kritis dalam pola berpikir abstrak, sehigga mampu memecahkan soal-soal yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan kemampuan untuk hemat dan pandai menghargai wakt, rasional, ekonomis.
d. Menanamkan, memupuk, dan mengembangkan sikap gotong-royong, jujur serta percaya kepada diri sendiri.

Tujuan berfungsi sebagai pedoman bagi pengembangan tujuan-tujuan spesifik (objectives), kegiatan belajar, implementasi kurikulum, dan evaluasi untuk mendapatkan balikan (feedback). Sebagai contoh, menurut Komite Pengembangan Kurikulum Amerika Serikat, terdapat sepuluh tujuan umum (goals), yaitu keterampilan dasar (basic skills), konseptualisasi diri, pemahaman terhadap orang lain, penggunaan pengetahuan yang telah terkumul untuk menginterprestasi dunia (lingkungan kehidupan), belajar berkelanjutan, kesehatan mental dan fisik, partisipasi dalam dunia ekonomi, produksi, dan konsumsi, warga masyarakat yang bertanggungjawab, kreativitas, dan kesiapan menghadapi perubahan (coping wiyh change).
Setiap tujuan yang masih bersifat umum diatas harus diuraikan lagi menjadi beberapa subtujuan (subgoals) yang lebih operasional. Misalnya, tujuan pengembangan keterampilan dasar diuraikan menjadi:
a) Mendapatkan informasi dan pengertian melalui kegiatan mengamati, mendengar, dan membaca.
b) Mengolah informasi dan pengertian yang diperoleh melalui keterampilan berfikir reflektif.
c) Berbagai informasi dan mengekspresikan pengertian melalui kegiatan percakapan, menulis, dan alat-alat nonverbal.
d) Manipulasi lambang dan menggunakan pikiran matematis, dan sebagainya.

Hal yang penting dicermati dalam pengembangan kurikulum ini adalah adanya hubungan, kaitan, dan saling mendukung antara tujuan yang satu dengan yang lainnya.

3. Penilaian Kebutuhan
Kebutuhan merupakan suatu hal yang pokok dalam perencanaan (Unruh dan Unruh, 1984). Dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum dan pembelajaran, kebutuhan didefinisikan sebagai perbedaan antara keadaan aktual (actual circumstance) dan keadaan ideal yang dicita-citakan (envisioned ideal circumstance). Dengan kata lain, suatu perbedaan antara keadaan riil dan ideal kondisi, kualitas, dan sikap.
Penilaian kebutuhan adalah prosedur, baik secara terstruktur maupun informal, untuk mengidentifikasi kesenjangan antara situasi "di sini dan sekarang" (here and now situation) dan tujuan yang diharapkan. Penilaian kebutuhan dapat mendahului maupun mengikuti penentuan tujuan. Kebutuhan juga dapat dimanfaatkan oleh pengembangan kurikulum untuk melakukan revisi dan modivikasi kurikulum.

4. Konten Kurikulum
Konten kurikulum dipandang sebagai informasi yang terkandung dalam bahan-bahan yang dicetak, rekaman audio dan visual, komputer dan alat-alat elektronik lainnya, atau yang ditransmisikan secara lisan. Infomasi menjadi konten bagi siswa jika dapat memberi pengertian terhadap aktivitas yang berguna. Karena itu, seleksi konten untuk kurikulum dan pembelajaran hanya merupakan salah satu bagian dari tugas-tugas pengembangan kurikulum yang berhubungan dengan konten tersebut. Konsekunsi yang lebih jauh, penentuan konten kurikulum harus disertai dengan perencanaan aktifitas yang bermakna.
Unruh (1984) membahas enam bidang konten kurikulum akademik untuk jenjang pendidikan dasar, yaitu: bahasa (membaca, menulis, bercakap-cakap, dan mendengar), matematika, sains (IPA), studi sosial (IPS), bahasa asing, dan seni. Asumsi pokok yang mendasari kajian bidang-bidang konten kurikulum adalah keinginan. Meskipun demikian, kurikulum hendaknya menyediakan ruang bagi pelajaran lain selain keenam bidang konten tersebut, antara lain bagi pendidikan kesehatan dan jasmani, serta berbagai pelajaran keterampilan yang dibutuhkan oleh banyak siswa.

5. Sumber Materi Kurikulum
Materi kurikulum yang diperlukan oleh para pengembang kurikulum dapat diperoleh di buku-buku teks dan petunjuk bagi guru. Materi tersebut juga dapat diperoleh di beberapa tempat seperti perpustakaan kurikulum diberbagai Universitas, khususnya pada bagian pendidikan. Selain itu pusat-pusat sistem sekolah umum, pusat pendidikan guru, kantor konsultan kurikulum, departemen pendidikan dan agen-agen pelayanan pendidikan regional lainnya, juga merupakan tempat untuk memperoleh materi kurikulum.
Isi atau materi kuriklum harus bersumber pada tiga hal, yakni:
a. Masyarakat beserta budayanya.
b. Siswa.
c. Ilmu pengetahuan.
Dalam menentukan isi kurikulum ketiga sumber tersebut harus diginakan secara seimbang. Isi kurikulum yang terlalu menonjolkan salah satu aspek, dapat mempengaruhi keseimbangan makna pendidikan.
a. Masyarakat sebagai Sumber Kurikulum.
Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup dimasyarakat.dengan demikian, apa yang dibutuhkan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan isi kurikulum. Kurikulum yang tidak memerhatikan kebutuhan masyarakat akan krang bermakna. Kebuthan masyarakat yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum meliputi masyarakat dalam lingkngan sekitar (lokal), masyarakat dalam tatanan nasional dan masyarakat globlal.
Kebutuhan masyarakat lingkungan sekitar atau lokal diperlukan oleh sebab setiap daerah memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda baik dilihat dari sudut geografis, setiap daerah memiliki perbedaan misalnya ada daerah pegunungan, pesisir, daerah perkotaan.
Selanjutnya kebutuhan dalam tatanan masyarakat secara nasional, juga harus dijadikan sumber penentapan materi kurikulum. Pengembangan budaya lokal dalam menentukan isi krikulum justru untuk kepentingan nasional. Oleh sebab itu, para pengembang perlu hati-hati dalam menetapan materi dan muatan kurikulum.

b. Siswa sebagai Materi Kurikulum.
Disamping masyarakat beserta kebudayaannya, penetapan materi kurikulum juga dapat bersumber dari siswa itu sendiri. Siswa dijadikan sebagai sumber dalam penentapn isi kurikulum, disebakan tugas dan fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan seluruh potensi siswa.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan isi kurikulum dikaitkan dengan siswa,yakni:
a) Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan anak.
b) Isi kurikulum sebaiknya mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dapat digunakan siswa dalam pengalamannya sekarang dan juga berguna untuk menghadapi kebutuhannya pada masa yang akan datang.
c) Siswa hendaknya didorong untuk belajar berkat kegiatannya sendiri dan tidak sekedar penerima secara pasif apa uang diberikan guru.
d) Apa yang dipelajari siswa hendaknya sesuai dengan minat dankeinginan siswa.

Dari pernyataan Crow siatas, maka perumusan materi kurikulum tidak bersumber dari pandangan orang dewasa tentang apa yang seharusnya diminati oleh sisiwa, akan tetapi disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa sesuai degan taraf perkembangannya.
Kebutuhan siswa sebagai dasar penetapan materi kurikulum dapat dipandang dari dua sisi, yaitu posisi psikobiologis dan sisi kehidupan sosial. Sisi psikobiologis berkenaan dengan apa yag timbul dari sisi siswa berdasarkan kebutuhan psikologis dan biologis yang dinyatakan dalam keinginan dan harapan mereka, tujuan dan masalah yang diminati untuk dipelajari. Sisi kebutuhan sosial berkenaan dengan tuntutan masyarakat, apa yang dianggap perlu untuk kehidupannya, agar mereka dapat hidp dimasyarakat.
Menurut Abraham Maslow, kebutuhan manusia itu bersifat hierarkis, artinya kebutuhan manusia akan menjadi dasar untuk kebutuhan berikutnya. Menurut Maslow kebutuhan manusia itu terdiri dari kebutuhan akan:
a) Survival atau kebutuhan fisiologis.
b) Security atau kebutuhan rasa aman.
c) Love and belonging atau kebutuhan untuk dicintai.
d) Self asteem atau kebutuhan personal (harga diri).
e) Self-actualization kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.

Menurut Maslow seseorang tidak mungkin berhasil memenuhi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (perkembangan mental, spiritual, pengembagan diri) manakala ia belum berhasil memenuhu kebutuhan yang fundamental, yakni kebutuhan makan, minm sebagai kebutuhan fisiologis.

c. Ilmu Pengetahuan sebagai Sumber Kurikulum.
Ilmu adalah pengetahuan yang terorganisir secara sistematis dan logis. Dengan demikian tidak semua pengetahuan dapat dikatakan ilmu. Ilmu hanya menunjuk pada pengetahuan yang memiliki objek, dan metode tertentu. Oleh karena itu, kita mengenal ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.
Bahan atau materi kurikulum dapat bersumber dari ilmu pengetahuan tersebut. Isi kurikulum diambil dari setiap disiplin ilmu. Para pengembang kurikulum tidak pelu susah-susah menyusun bahan sendiri. Mereka tinggal memilih materi mana yang perlu dikuasai oleh anak didik berdasarkan disiplin ilmu sesuai dengan taraf perkembangan anak didik serta sesuai dengan kepentingannya.
Materi kurikulum pada hakikatnya adalah isi kurikulum. Dalam Undang-Undang Pendidikan tentang Sistem Pendidikan Nasiona telah diteapkan bahwa "isi kurikulum merupakan bahan kajian dan pelajaran untk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujan pendidikan nasional. Isi kurikulum dikembangkan dan disusun berdasakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Materi kurikulum berupa baan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar dan pembelajaran.
b. Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing tujuan pendidikan. Perbedaan dalam ruang lingkup dan urutan bahan pelajara disebabkan oleh perbedaan tujuan satuan pendidikan tersebut.
c. Materi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional merupakan target tertinggi yang hendak dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.

Materi kurikulum mengandung aspek-aspek tertentu sesuai dengan tujuan kurikulum, yang meliputi:
a. Teori, ialah seperangkat konstruk atau konsep, definisi dan preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan-hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
b. Konsep, adalah suatu abstraksi yag dibentuk oleh generalisasi dari kekhususan-kekhususan. Konsep adalah definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
c. Generalsasi, adalah kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
d. Prinsip, adalah ide utama, pla skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
e. Prosedur, adalah suatu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan oleh siswa.
f. Fakta, adalah sejumlah informai khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat, dan kejadian.
g. Istilah, adalah kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
h. Contoh atau ilustrasi, adalah suatu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
i. Definisi, adalah penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/suatu kata dalam garis besarnya.
j. Preposisi, ialah suatu pernyataan atau theorem, atau pendapat yang tak perlu diberi argumentasi. Preposisi hampir sama dengan asumsi dan paradigma (Oemar Hamalik, 1998, h. 84-86).
Deskripsi dan analisis suatu pandangan komprehensif tentang lapangan kurikulum tidak mungkin tersaji hanya dalam satu literatur. Oleh karena itu, diperlukan sumber-sumber yang mendukung dalam memperoleh informasi dan ide-ide lebih jauh tentang lapangan kurikulum yang dikaji. Sumber-sumber yang dimaksud meliputi karya-karya yang diterbitkan oleh asosiasi profesional, penerbit berkala, dan buku-buku teks yang relevan.

6. Implementasi Kurikulum
Sebuah kurikulum yang telah dikembangkan tidak akan berarti (menjadi kenyataan) jika tidak diimplementasikan, dalam artian digunakan secara aktual disekolah dan dikelas. Dalam implementasi ini, tentu saja harus diupayakan penanganan terhadap pengaruh faktor-faktor tertentu, misalnya kesiapan sumber daya, faktor budaya masyarakat, dan lain-lain.
Berbagai dimensi implementasi kurikulum yang penting untuk dicermati adalah materi kurikulum, struktur organisasi kurikulum, peranan atau perilaku, pengetahuan, dan internalisasi nilai. Keberhasilan implementasi terutama ditentukan oleh aspek perencanaan dan strategi implementasinya. Pada prinsipnya, implementasi ini mengintegrasikan aspek-aspek filosofis, tujuan, subject matter, strategi mengajar dan kegiatan belajar, serta evaluasi dan feedback.

7. Evaluasi Kurikulum
Evaluasi adalah suatu proses interaksi, deskripsi, dan pertimbangan (judgment) untuk menemukan hakikat dan nilai dari suatu hal yang dievaluasi,dalam hal kurikulum. Evaluasi kurikulum sebenarnya dimaksudkan untuk memperbaiki substansi kurikulum, prosedur implementasi, metode instruksional, serta pengaruhnya pada belajar dan perilaku siswa.
Evaluasi merupakan suatu komponen kurikulum, karena kurikulum adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dengan evaluasi dapat diperoleh informasi yang akrat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa. Berdasarkan informasi itu dapat dibuat keputusan tentang kurikulum itu sendiri, pembelajaran, kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu dilakukan. Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih
bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, komplek dan terus menerus untuk mengetahui proses dan hasil pelaksanaan sistem pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi juga meliputi rentangan yang cukup luas, mulai dari yang bersifat sangat informal sampai dengan yang sangat formal. Pada tingkat yang sangat informal evaluasi kurikulum berbentuk perkiraan, dugaan atau pendapat tentang perubahan-perubahan yang telah dicapai oleh program sekolah. Pada tingkat yang lebih formal evaluasi kurikulum meliputi pengumpulan dan pencatatan data, sedangkan pada tingkat yang sangat formal berbentuk pengukuran berbagai bentuk kemajuan kearah tujuan yang telah ditentukan.
Aspek-aspek yang perlu dinilai bertitik tolak dari aspek-aspek tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan kurikulum, tujuan pembelajaran dan tujan belajar siswa. Setiap aspek yang dinilai berpangkal pada kemampuan-kemampuan apa yang hendak dikembangkan, sedangkan tiap kemampuan itu mengandung unsur-unsur pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta nilai. Penetapan aspek yang dinilai mengacu pada kriteria keberhasilan yang telah ditentukan dalam kurikulum tersebut.
Jenis penilaian yang dilaksanakan tergantung pada tujuan diselenggarakannya penilaian tersebut. Misalnya, penilaian formatif dimaksudkan untuk mengetahui kemajuan siswa dan dalam upaya melakukan perbaikan yang dibutuhkan. Berbeda dengan penilaian sumatif yang bermaksud menilai kemajuan siswa setelah satu semester atau dalam periode tertentu, ntuk mengetahui perkembangan siswa secara menyeluruh.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu instrumen penilaian, ialah validitas, reliabilitas, objektivitas, kepraktisan, pembedaan. Disamping itu perlu diperhatikan bahwa: penilaian harus bersifat objektif, dilakukan berdasakan tanggung jawab kelompok gru, rencana yang rinci dan erkait dengan pelaksanaan kuriklum, sesuai dengan tujuan dan materi kurikulum, menggunakan alat ukur yang handal dan mudah dilaksanakan serta memberikan hasil yang akurat.
Pertimbangan penting lainnya bagi evaluator kurikulum adalah evaluasi formatif (untuk perbaikan program), dan evaluasi sumatif, untuk memutuskan melanjutkan program yang dievaluasi atau menghentikannya dengan program lain. Model-model evaluasi kurikulum yang dapat dipilih dan diaplikasikan adalah model pencapaian tujuan (goal attainment model), model pertimbangan (judgmental evaluation model), model pengambilan keputusan (decision facilitative evaluation model), dan model deskriptif.
Faktor-faktor kurikulum yang sukar dirumuskan, antara lain sebagai berikut:
1) Evaluasi kurikulum berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terus berubah.
2) Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai dengan konsep kurikulum yang digunakan.
3) Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia yang sifatnya juga berubah.

Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang berdiri sendiri. Ada pihak yang berpendapat antara keduanya tidak ada hubungan, tetapi ada pihak lain yang menyatakan keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Pihak yang memandang ada hubungan, hubungan tersebut merupakan sebab-akibat. Perubahan dalam kurikulum berpengaruh pada evaluasi kurikulum, sebaliknya perubahan evaluasi akan memberi warna pada pelaksana kurikulum. Hubungan antara evaluasi dengan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya berlangsung secara evolusioner. Pandangan-pandangan lama yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman, secara berangsur-angsur diganti dengan pandangan baru yang lebih sesuia.
R.A. Becher, seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex, Inggris menyatakan bahwa: Tiap program pengembangan kurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu, dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula. Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi kurikulum sesuai dengan style dan karakteristik kurikulum yang dikembangkannya. Juga terjadi sebaliknya, hasil program evaluasi kurikulum akan mempengaruhi pelakssanaan praktik krikulum.
Konsep R.A. Becher tentang pengembangan kurikulum dan evaluasi kuriklum, pada mulanya bersifat deskriptif yaitu menekankan pada What is it?, tetapi kemudian berkembang kepada yang bersifat preskriptif, yang menekankan pada What ought to be. Konsep-konsep evaluasi kurikulum yang bersifat preskriptif, mempunyai tempat dalam konsep kurikulum yangbersifat preskriptif pula. Sebagai contoh, teori dari Ralph Tylor dan Benyamin Bloom, berisikan pedoman-pedoman praktis bagi pengembangan kurikulum, demikian juga dengan teori evaluasi kurikulumnya.
Program evaluasi kurikulum bukan hanya mengevaluasi hasil belajar siswa dan proses pembelajarannya, tetapi juga desain dan implementasi kurikulum, kemampuan dan unjuk kerja guru, kemampuan dan kemajuan siswa, sarana, fasilitas dan sumber-sumber belajar, dan lain-lain. Hilda Taba menjeaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi:
Objective, it scope, the quality of personnel in charger of it, the capacities of he students, the relative importance of various subject, the degree to which objectives are implemented, the equipment and materials and so son (Taba, 1962:310).
Luas atau sempitnya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan tujuannya. Doll (1976), mengemukakan syarat-syarat suatu program evaluasi kurikulum, yaitu acknowledge presence of values and valuing, orientation to goals, comprehensives, continuity, diagnostic wort and validity and integraion (Doll, 1976:326-363). Suatu evaluasi kurikulum harus memiliki nilai dan penilaian, punya tujuan atau sasaran yang jelas, bersifat menyeluruh dan terus-menerus, berfungsi diagnostik dan terintegrasi.
Evaluasi kurikulum juga bervariasi bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas.
Evaluasi kurikulum dapat dilihat sebagai proses sosial dan sebagai institusi sosial. Proyek-proyek evaluasi yang dikembangkan di Inggris umpamanya, juga di negara-negara lain, merupakan institusi sosial dari gerakan penyempurnaan kurikulum. Evaluasi kurikulum sebagai institusi sosial mempunyai asal-usul, sejarah, struktur serta interest sendiri. Beberapa karakteristik dari proyek-proyek kurikulum yang telah dikembangkan di Inggris, umpamanya:
1) Lebih berkenaan dengan inovasi daripada dengan kurikulum yang ada.
2) Lebih berskala nasional daripada lokal.
3) Dibiayai oleh grant dari luar yang berjangka pendek daripada oleh anggapan tetap.
4) Lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan penelitian yang bersifat psikometris daripada oleh kebiasaan lama yang berupa penelitian sosial.

8. Keadaan di Masa Mendatang
Dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, pandangan dan kecenderungan pada kehidupan masa datang sudah menjadi kepentingan pokok. Oleh karena manusia memiliki visi terhadap masa yang akan datang, maka manusia selalu menghadapi tantangan yang semakin berat.
Pesatnya perubahan dalm kehidupan sosial, ekonomi, teknologi, serta berbagai peristiwa dunia, memaksa setiap warga masyarakat berpikir dan merespon setiap perubahan yang dihadapi. Oleh karenanya, harus dipikirkan solusi alternatif dalam menghadapi situasi masa yang akan datang tersebut. Prediksi keadaan penduduk, persediaan makanan, polusi, sumber-sumber yang tidak dapat diperbaharui, ancaman nuklir, serta gejolak politik dan ekonomi, harus direspon sejak sekarang, tidak terkecuali respon dari pengembangan pendidikan. Dengan kata lain, setiap rencana pengembangan kurikulum harus memasukan pertimbangan kehidupan dimasa depan, seta implikasinya pada perencanaan kurikulum.

0 komentar:

Poskan Komentar