13 November 2014 - 0 komentar

Happy Birthday Zelvia



»»  READMORE...
23 Maret 2014 - , 0 komentar

ELEVATOR



Melelahkan, pekerjaan ini benar-benar melelahkan. Aku harus menyelesaikan laporan penjualan bulan lalu dan harus selesai dalam waktu dua hari. Ini memang salahku mengambil cuti disaat pekerjaan masih menumpuk. Kalau saja temanku tidak mengiming-imingiku untuk pergi ke Bali waktu itu mungkin aku sudah berada dirumah saat ini, sedang menonton televisi atau sekedar browsing internet dan mengecek aktifitas forum Lucid Dream, kebetulan aku Admin di forum tersebut. Namun kenyataannya disinilah aku sekarang, masih berada di kantor. Mau tidak mau aku kerja lembur.
Aku melihat jam yang berada dimeja kerjaku, jam menunjukan pukul 11. Seolah tak percaya aku pun mengecek jam tanganku. Benar sekali sudah jam 11 malam, tidak ada lagi orang disini kecuali aku. Rasanya aku melewatkan dua orang temanku yang telah pulang, mungkin sejam yang lalu. Sejujurnya aku tidak benar-benar sendiri, ada seorang satpam yang jaga malam di kantor ku tapi ia hanya berjaga di pos depan gedung kantor dan aku berada di lantai 6 gedung, sekalipun aku berteriak jika terjadi sesuatu, aku sudah memastikan ia tidak akan mendengarnya.
Aku meregangkan tubuhku sejenak melemaskan otot-otot yang kaku, pegalnya tidak segera pergi tapi cukup membuatku sedikit lebih segar. Aku mengambil handphone ku diatas meja disamping komputer, hanya untuk mengecek apakah ada pesan masuk. Benar saja kudapati 3 pesan masuk, dua pesan dari operator seluler dan satu pesan dari teman kantorku yang isinya hanya berpamitan pulang. Mungkin aku tadi tidak mendengar mereka karena terlalu fokus bekerja.
Aku sudah mulai mengantuk dan sangat lelah, aku membereskan beberapa barang dimejaku, menumpuk beberapa kertas laporan yang akan kulanjutkan esok hari. Aku berniat pulang dan kumatikan komputerku. Aku berjalan menggendong tas kerjaku menyusuri ruang kerja teman-temanku menuju ke lift, jaraknya tidak terlalu jauh tapi tetap saja aku berjalan dengan langkah besar dan cepat. Rasa sepi benar-benar menyelimutiku, tidak menakutkan tapi cukup membuat jantung ku lepas bila tiba-tiba ada barang yang jatuh.
Aku berada didepan pintu lift dan segera ku tekan tombol untuk membuka pintu lift. Pintunya lama sekali terbuka, aku menekan tombol itu berulang-ulang kali, menunggu dengan gelisah. Sepuluh detik kemudian pintu lift terbuka. Ya hanya sepuluh detik tapi bahkan itu lebih lama daripada jam makan siang dengan keadaan seperti ini. Aku masuk kedalam lift, tidak ada yang aneh sampai aku melihat tombol lift yang benar-benar mengagetkanku. Hanya terdapat 3 tombol disana, padahal aku berada di lantai 6 dan gedung ini memiliki 12 lantai. Tanpa berpikir panjang aku dapat menyimpulkan kalau aku sedang bermimpi. Aku sudah dapat mengetahui tanda dalam mimpiku, apalagi ini adalah kejanggalan yang sangat jelas sekali.
Aku menurunkan tasku dan melihat seisi lift. Tidak ada yang beda kecuali tombol liftnya saja. Aku harus bangun, tidak seharusnya aku berada disini. Aku pasti sekarang sedang tidur diruang kerjaku. Sejak kapan aku tertidur, aku bahkan tak mengingatnya, pikirku. Aku mengambil tasku dan mencoba untuk bangun.
“Bangun” ucapku.
Aku tidak berhasil bangun, aku masih berada di dalam lift. Aku mencobanya kembali sambil memejamkan mata berharap ketika aku membukanya aku telah berada diruang kerjaku.
“Bangun, bangun” ucapku berulang-ulang kali
Aku membuka mataku perlahan, dapat kurasakan kelopak mataku membuka perlahan. Aku melihat pintu, pintu lift yang sama. Sial, aku tidak berhasil bangun. Ini sangat aneh, aku selalu bisa bangun atas kehendakku di mimpi, ini bahkan tidak bekerja sama sekali. Aku tidak bisa bermimpi saat ini, tubuhku masih berada dikantor tidak mungkin aku tidur disana, besok aku harus kembali bekerja. Ini mimpi yang benar-benar aneh.
Pandanganku beralih kembali pada tombol lift yang berbentuk bulat tanpa angka serta berjajar dari atas ke bawah. Aku mendekati tombol lift tersebut, berniat menekan salah satu tombol. Aku sedang tidak ingin menjelajah mimpi, maksudku ini bukan waktu yang tepat, tapi aku tak punya pilihan. Akhirnya ku tekan tombol lift paling bawah. Lift mulai bergerak, dapat kurasakan liftnya bergerak naik. Aku menunggu dengan perasaan cemas, aku sudah tahu ini mimpi yang tidak biasa, aku berharap dapat bangun setelah pintu lift ini terbuka.
“Ting” jantungku berdetak kencang, suara itu benar-benar mengagetkanku. Itu hanya suara lift telah sampai disalah satu lantai yang aku tahu pasti ini bukan gedung kantorku. Pintu lift perlahan terbuka, ada cahaya yang langsung menyorot ke dalam lift, benar-benar menyilaukan. Aku menutupi wajahku dengan lengan kananku, menghalangi cahaya menuju mataku. Perlahan aku dapat melihat dengan jelas ruang tersebut, aku menurunkan tanganku. Samar-samar aku melihat keramaian disana, kegiatan yang tidak asing. Aku berjalan perlahan keluar dari lift. Tiba-tiba ada seorang pria yang hampir menabrakku dari samping, sontak aku mundur satu langkah dengan kaget. Seolah ia tak melihatku, ia berjalan dengan santainya. Ia membawa nampan berisi daging yang baru dipotong, terlihat dari darah yang membanjiri nampan tersebut.
Ini seperti dapur restoran besar, pikirku. Aku berdiri tepat didepan lorong panjang, terdapat 6 baris meja panjang di kanan-kiri lorong dimana disetiap meja terdapat sekitar 5 orang koki yang mengenakan pakaian putih dengan beberapa noda dipakaian mereka sedang sibuk memasak. Aku berjalan perlahan menyusuri lorong meja tersebut. Dapat kulihat dimeja pertama, para koki sedang menyiapkan hidangan yang telah siap disajikan. Aku dapat merasakan kelezatan masakan tersebut meski aku sedang tidak ingin makan saat ini.
Aku berjalan lagi menuju meja kedua. Aku merasa mereka benar-benar tidak melihatku, sama sekali tidak ada satupun yang menyadari kehadiranku. Dapat kulihat dibagian kiri, para koki sedang sibuk menggoreng. Terdapat sebuah alat penggorengan besar berbentuk kotak disana dengan minyak panas yang aku yakin dapat memasukan seekor kambing dewasa didalamnya tanpa harus dipotong. Dibagian kanannya, aku melihat sederetan panci besar dengan air yang mendidih.
Aku kembali berjalan menuju meja ketiga, bagian ini para koki sedang memotong beberapa sayuran. Aku dikagetkan saat seorang koki mengayunkan pisau yang besar membelah sebuah kol. Aku mengelus dadaku, memastikan bahwa jantungku baik-baik saja. Aku melanjutkan menuju meja keempat. Sepertinya aku melupakan keinginanku untuk segera bangun, rasa penasaran sekarang benar-benar menyelimutiku. Kudapati para koki sedang memotong daging menjadi bagian yang kecil-kecil. Itu terlihat seperti daging babi atau sapi, pikirku. Bau amis daging benar-benar terasa menyengat dihidungku. Tidak terlalu lama aku berada disini, aku segera menuju ke meja berikutnya.
Tidak jauh berbeda dari meja sebeumnya, dibagian ini para koki sedang memotong daging tapi dalam ukuran yang lebih besar. Dapat kudengar irama berbeda dari hentakan pisau besar saat membelah daging dari kanan kiri meja. Banyak percikan darah yang menetes kebawah meja, terdengar seperti rintikan air hujan. Ini benar-benar membuatku mual, bahkan aku menutup hidungku saat hendak menuju meja terakhir.
Perutku benar-benar berontak saat tiba dimeja terakhir, aku sudah tidak dapat menahannya. Aku memuntahkan isi perutku saat melihat para koki sedang menguliti dan membuang bagian organ dalam yang tidak terlihat seperti organ dalam babi atau sapi. Kulihat mereka mengoyak kulit menggunakan tangan mereka. Aku terjatuh lemas dan kembali memuntahkan semua isi perutku bahkan sampai mengenai pakaianku. Seketika aku menyadari ini bukan pakaian yang aku kenakan saat dikantor, entah sejak kapan pakaian ku berubah aku baru menyadarinya sekarang.
Terfikir olehku untuk kembali pulang sekarang, dengan detak jantung yang dapat kurasakan kencangnya dan nafas yang terengah-engah, aku mencoba membangunkan diriku. Berulang kali kucoba usahaku tetap saja tidak berhasil. Aku mencoba berdiri dengan lemasnya. Aku membalikan badan, dapat kulihat semua orang berhenti bekerja dan mereka semua menatapku dengan tatapan menyeramkan. Ini benar-benar menakutkan, kukira mereka tidak dapat melihatku.
Aku menatap lift yang berada diujung hadapanku. Tidak ada jalan keluar lain selain kembali ke lift itu. Aku berjalan perlahan dengan tatapan para koki yang mengiringiku. Tiba-tiba teriakan keras seperti gorilla yang sedang mengamuk mengagetkanku. Suara dari salah satu koki di meja ke enam yang dengan segera mengejarku membawa pisau besar dikedua tangannya. Aku segera berlari dengan sisa tenaga seadanya, meski tidak sedang bertarung sebelumnya namun tenaga ku benar-benar seperti terkuras habis. Aku berlari melewati deretan meja-meja yang telah kulewati sebelumnya. Tiba-tiba semua orang disana berteriak terdengar persis seperti segerombolan gorilla yang sedang mengamuk, menggemakan seisi ruangan.
Aku terus berlari tanpa menoleh kebelakang, kudengar teriakan koki yang mengejarku semakin dekat. Aku sudah hampir sampai didepan lift, saat aku hendak masuk kedalam lift sekuat tenaga kupacu langkah ku tiba-tiba aku menabrak seseorang yang membawa nampan tepat didepan pintu masuk lift. Aku terjatuh dan nampan yang dibawa oleh orang tersebut jatuh tepat didepanku. Kudapati ada kepala manusia disana, dengan mata yang masih membuka dan darah kental yang masih mengalir pada potongan lehernya, aku berteriak ketakutan, jantungku berdetak sangat kencang.
Kudengar teriakan dari koki yang mengejarku, saat aku menoleh kebelakang. Ia sedang mengayunkan pisau besarnya tepat kearah ku. Aku langsung menghindar kesamping, pisau koki tersebut tepat mengenai kepala manusia yang berada dinampan. Darahnya mengenai ku. Dapat kulihat bagian isi kepalanya yang membuat perutku kembali berguncang. Koki tersebut kembali mengangkat pisau besarnya dan berteriak menatapku. Aku segera berdiri dan masuk kedalam lift. Tanpa berpikir panjang aku segera menekan tombol lift. Kulihat koki tersebut melemparkan pisaunya saat pintu lift sedang menutup, beruntung sekali pintu lift segera tertutup.
Sial, sial, sial. Aku mengatakan pada diriku sendiri. Mimpi apa ini, ini mimpi yang benar-benar mengerikan. Aku masih terguncang dengan kejadian tadi, aku menjatuhkan diriku duduk di sudut lift, menenangkan diriku dan memikirkan untuk bangun. Aku berusaha mengatur napas ku agar tetap tenang.
“Ting” aku mulai membenci suara itu. Lift tiba disalah satu lantai. Jantungku berdetak sangat kencang ketika pintu lift perlahan membuka, mataku membuka lebar tanpa mengedip sedikitpun. Aku tidak berniat untuk keluar lift, aku masih duduk disudut lift. Tak berapa lama aku perlahan berdiri, tanganku berpangku pada dinding lift. Aku menarik napas perlahan, dapat kudengar hembusan napasku. Kulangkahkan kakiku mendekati pintu lift, kuamati perlahan sebelum keluar lift keadaan diruangan tersebut. Ruangannya cukup besar namun gelap, hanya ada satu lampu yang menyala diujung ruangan. Aku merasa mengenali ruangan ini, perlahan aku berjalan keluar dari lift tersebut. Aku mengamati ruangan itu dengan seksama sambil memicingkan mataku. Aku terkejut bercampur senang, ini ruang kantorku. Aku memastikan penglihatanku tidak salah dengan menggosok-gosok kedua mataku. Benar sekali ini ruang kantorku.
Aku berjalan menuju cahaya lampu yang menyala, aku mengenal itu ruang kerjaku. Aku mempercepat langkahku, memastikan aku benar-benar telah bangun. Semakin lama aku semakin mendekat dan dapat kulihat dari kejauhan komputerku menyala diatas meja. Ditengah perjalanan aku terhenti, aku melihat ada seseorang dimeja kerjaku sedang duduk dan menggunakan komputerku. Aku berjalan perlahan, kegembiraanku yang tadi sempat muncul kini kembali tergantikan oleh rasa takut yang kembali hadir. Aku mendekatinya, berharap pandanganku salah. Semakin dekat aku berjalan sosok tersebut makin terlihat sedang duduk dikursi dan terlihat sibuk seperti yang biasa aku lakukan. Semakin lama aku semakin dapat melihat wajahnya, cahaya dari komputer menerangi wajahnya. Benar-benar mengejutkan, sosok tersebut adalah aku. Aku dapat melihatnya dengan jelas.
Tangannya yang semula berada di keyboard komputer tiba-tiba berhenti bergerak. Sosok yang menyerupai aku itu menoleh dan melihat kearah ku kemudian ia melemparkan senyuman, bukan senyuman sapaan tapi lebih seperti senyuman seorang psikopat yang ingin membunuh korbannya, benar-benar mengerikan. Seketika monitor komputer berkedap-kedip dan mengeluarkan suara nyaring yang memekakan telinga dibarengi dengan lampu yang ikut berkedap-kedip. Aku menutupi telingaku dari suara tersebut. Ruangan menjadi semakin gelap, keadaan tersebut membuatku kesulitan untuk melihat. Saat aku kembali menoleh kearah meja kerjaku aku tidak lagi melihat sosok tersebut. Dan… “bruk” badan ku terhempas dengan kerasnya kelantai. Aku dapat merasakan tangan yang mendorongku tadi.
Mataku mengawasi kesekeliling ruangan, sebelum akhirnya aku kembali berdiri. Masih dengan lampu yang berkedap-kedip aku melihat sosok tersebut berjalan kearahku. Sosok tersebut tepat dihadapanku, aku seperti sedang bercermin, sampai akhirnya ia memegang bajuku dan mengangkat ku dengan mudahnya kemudian ia melemparkanku kembali kelantai. Kali ini lemparannya lumayan jauh, aku terseret kira-kira duapuluh meter dan hanya berjarak beberapa meter lagi dari depan lift. Aku dapat merasakan sakitnya punggungku, dengan tertatih aku kembali mencoba berdiri. Terdegar suara langkah kaki yang mendekati ku, dengan sekuat tenaga aku segera bangkit. Suara langkah kaki itu semakin mendekat, aku berjalan dengan bersusah payahnya kembali ke lift. Aku dapat melihat lift tersebut dihadapanku, tiba-tiba pintu lift perlahan menutup, kupercepat langkah ku sambil menahan rasa sakit dipunggungku. Bertepatan saat aku berada didepan lift, pintu lift tertutup. Sial, ucapku kesal.
Aku berbalik badan dan sosok tersebut tepat dihadapanku. Tidak ada cara lain selain melawan, tapi dengan apa, tanyaku dalam hati. Belum sempat aku memikirkan cara sosok tersebut mengayunkan pukulan kearahku, dengan reflek aku langsung menunduk dan pukulannya tepat mengenai pintu lift yang meninggalkan bekas remukan disana. Aku tidak dapat membayangkan bila aku terkena pukulan itu. Aku berlari menjauh darinya, sosok tersebut berjalan dengan langkah besar kearah ku, dapat kulihat amarah yang terpancar darinya.
Tiba-tiba aku mendapatan ide untuk melawan, terfikir olehku untuk menciptakan sesuatu. Ini mimpi pikirku, aku bisa menciptakan sesuatu sesuai kehendakku. Tanpa pikir panjang dengan emosi yang telah merasuki diriku. Aku mencoba menciptakan gergaji mesin ditanganku dan aku berhasil, suara bisingnya benar-benar memekakan telinga, namun itu sama sekali tidak menggangguku. Aku mengangkat gergaji mesin itu dengan kedua tanganku seperti aku telah siap bertarung sekarang. Aku mendekati sosok tersebut dan berlari kearahnya sambil mengayunkan gergaji mesin tersebut. Tepat dihadapannya aku mengayunkan gergaji mesin tersebut, belum sempat aku mengenainya dia menghilang. Aku berputar mencarinya, mataku berkeliling diruangan tersebut.
Aku melihat ada dua benda besar seperti boomerang dengan bentuk bergerigi disekelilingnya terbang diatas ruangan tersebut seperti sedang mengincar mangsa untuk ditangkap. Aku kembali berjalan mencari sosok tersebut dan tiba-tiba ia berada dibelakangku, aku dapat merasakan hembusan napasnya. Aku berbalik badan dan segera mengayunkan gergaji mesinku, ia menangkis seranganku dengan tangannya membuat tangannya terpotong, bagian tangannya jatuh kelantai dan lengannya yang terpotong memuncratkan darah yang mengenaiku. Seperti tidak merasa kesakitan, ia kemudian mencekikku dan mengangkat tubuhku. Aku tidak bisa bernapas, kaki ku tidak lagi menginjak kelantai dan gergaji mesinku pun jatuh saat itu. Aku berontak dan mencoba melepaskan cekikannya dari leherku.
Aku merasa benar-benar akan mati saat itu. Tiba-tiba aku melihat dua benda yang melayang seperti boomerang tersebut terbang kearah kami dari belakang sosok yang menyerupai aku tersebut. Aku dapat mendengar suara putaran benda itu yang semakin mendekat. Seketika salah satu benda itu mengenai sosok tersebut. Ia melepaskan cekikannya, dan aku terjatuh dibawahnya. Aku dapat melihat benda tersebut berputar mengoyak tubuh sosok yang menyerupai aku itu. Isi tubuhnya berjatuhan tepat dibawahku. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menuju ke lift, namun salah satu benda tersebut mengejarku. Suaranya mengiringi ku dari belakang dan semakin mendekat, aku menoleh kebelakang dan seketika aku langsung menunduk ketika benda tersebut akan memotong leherku. Aku berlari sekuat tenaga munuju ke lift, aku melihat pintu lift yang membuka perlahan. Seolah tahu bahwa sosok yang menyerupaiku itu telah lenyap, lift ini kembali mau menerimaku. Aku mendengar kembali suara benda melayang tersebut, aku menoleh kebelakang dan kini ada dua benda yang mengejarku. Tidak akan ada lagi kesempatan kedua pikirku, jikapun aku akan lolos dari salah satu benda itu, aku yakin benda satunya yang akan mengoyak tubuhku.
Kupercepat lariku, hingga aku akhirnya sampai kedalam lift dan langung menekan tombol lift. Pintu lift menutup perlahan, aku dapat melihat dua benda tersebut tepat mengarah kearah lift. Aku memejamkan mataku, jantungku berdetak kencang berharap pintu lift segera menutup, dan kemudian kudengar suara benda tersebut menghantam pintu lift. Aku membuka mata dan terjatuh lemas. Banyak darah ditubuku, namun sepertinya aku tidak memperdulikan itu. Aku kesal dan berteriak didalam lift, menghantamkan pukulan didalam lift tersebut. Aku tidak lagi mencoba untuk bangun, aku tahu itu tidak akan berhasil ditempat ini.
Lift berhenti disalah satu lantai, karena terlalu ketakutan aku tidak mendengar suara pintu lift membuka.  Aku tidak beranjak dari tempatku, aku dapat melihat dari dalam lift ruangan tersebut tidak terlalu besar, catnya berwarna putih menyilaukan. Ada beberapa orang yang terlihat berjalan mondar-mandir disana, mengenakan pakaian yang sama denganku. Aku mempertajam penglihatanku dan mulai berdiri. Aku berjalan perlahan keluar lift, ada 10 orang disana yang terlihat ketakutan dan kebingungan sama seperti aku saat ini. Aku masuk keruangan tersebut, semua orang disana melihat kearahku dan terlihat seperti siap menyerangku namun sedetik kemudian mereka kembali seperti biasa, terlihat lega. Aku benar-benar tidak mengerti tempat apa ini dan siapa orang-orang ini. Lift yang berada dibelakangku tiba-tiba menghilang.
Aku berdiri ditengah ruangan, memandang kesekeliling ku. Tidak ada makhluk aneh, tidak ada makhluk menyeramkan, hanya orang-orang yang sama sepertiku. Aku mencoba untuk bangun namun berapa kali aku coba masih tetap tidak bisa.  Aku berjalan kesudut dinding untuk menemukan jalan keluar, tiba-tiba kami dikejutkan oleh seseorang yang jatuh dari atap ruangan. Terdapat sebuah lubang tempat ia jatuh dan seketika segera menghilang. Ia mengenakan pakaian yang sama dengan kami. Satu lagi korban pikirku. Semakin lama ruangan semakin penuh dengan orang-orang yang terjebak disini dan tidak bisa keluar. Terjebak selamanya, selamanya didalam mimpi.
 


»»  READMORE...
19 Maret 2014 - , 0 komentar

DOOR





Aku berhenti, rasanya aku ingin berhenti saja melakukan ini. Aku sudah mempelajarinya selama 6 bulan dan sampai sekarang aku tidak pernah mendapatkan Lucid Dream. Aku sempat menggunakan software yang katanya dapat membantu mempermudah untuk masuk dunia Lucid Dream, nyatanya yang kudengar tak lebih dari sekedar suara alat penyerut kayu yang membuat telingaku tak nyaman. Aku benar-benar menyerah, tidak akan ada lagi “ritual” tentang ini.
Aku mengambil handphone yang berada di sebelah bantalku, deringannya membangunkanku. Aku lupa menonaktifkan alarm handphone ku yang sebelumnya kupakai sebagai salah satu “ritual” untuk Lucid Dream. Aku lebih suka menyebutnya ritual daripada teknik. Cahaya lampu yang terpancar dari handphone ku benar-benar menyilaukan apalagi lampu kamar yang selalu ku matikan setiap kali tidur membuat sorotan sinarnya tepat mengenai mataku. Jam menunjukan pukul 4:20, kuletakan kembali handphone ku ketempat semula.
Aku keluar dari kamar untuk mengambil segelas air. Kamarku berada tepat disebelah ruang tamu, itu membuat kamarku serasa jauh dengan dapur yang berada dibelakang dengan kondisi yang gelap seperti ini. Aku berjalan hanya bergantung pada cahaya lampu meja di ruang keluarga yang cahayanya membentuk siluet barang-barang disekitarnya.
Aku berada didepan pintu dapur sekarang, harusnya aku hanya tinggal membukanya dan mengambil segelas air namun pandanganku berubah ketika tanganku masih memegang gagang pintu, aku melihat ada deretan pintu yang sama di sebelah kanan pintu dapurku. Aku lepaskan peganganku dari pintu dan mundur tiga langkah untuk melihat berapa banyak deratan pintu tersebut. Dari tempatku berdiri aku melihat ada 3 pintu dikanan. Kini aku punya 4 pintu dapur, pikirku.
Aku berjalan menuju pintu paling ujung kanan. Lampu meja diruang keluarga membentuk bayanganku pada pintu-pintu yang kulewati. Aku tidak peduli berapa banyak pintu dapur yang kupunya, aku hanya ingin mengambil segelas air dan kembali tidur, pikirku pada diri sendiri. Tiba-tiba aku tersadar, aku mengatakan pada diriku sendiri, apakah aku bermimpi. Benar sekali aku bermimpi, aku hanya memiliki satu pintu dapur dan kali ini 4, sudah tidak usah diragukan lagi aku sedang Lucid Dream. Aku tersenyum dengan penuh semangat karena ini adalah Lucid Dream pertamaku. Namun aku kembali mengingat beberapa ritual yang pernah kubaca dalam forum Lucid Dream untuk tidak terlalu mengeluarkan emosi yang berlebihan atau semuanya akan buyar. Dengan cekatan aku kembali menurunkan emosiku.
Aku harus memanfaatkan ini, aku akan terbang atau menembus dinding atau melompat, aku benar-benar bingung akan melakukan apa pada Lucid Dream pertamaku. Aku kembali mengingat beberapa saran dari teman forum Lucid Dream saat masuk ke dunia Lucid Dream untuk pemula bisa menembus dinding. Aku sangat bersemangat untuk melakukan itu. Aku kembali menatap pintu didepanku, aku merasa tidak ada bedanya dinding dengan pintu, maksudku sama-sama tidak bisa ditembus oleh manusia didunia nyata. Aku memfokuskan diri untuk bisa menembus pintu yang ada dihadapanku, aku menarik napas dalam-dalam, aku berjalan perlahan menuju pintu dengan mata yang ku pejamkan, aku merasa semakin dekat dengan pintu tersebut dan tiba-tiba badanku tersangkut didepan pintu, aku tidak bisa menembusnya. Sial.

Aku berdiri didepan pintu dapurku, aku menoleh kearah kiri dan melihat 3 pintu dapur lainnya, masih terfikir untuk menembusnya. Namun pikiranku beralih untuk membuka pintu tersebut. Ini Lucid Dream pertamaku, tidak mungkin aku akan bangun hanya karena tidak bisa menembus pintu, akan sangat sayang sekali jika aku tidak menjelajahinya, pikirku. Aku tidak lagi terfikir untuk mengambil segelas air setelah membuka pintu tersebut, aku malah berfikir akan menemukan sesuatu yang menyenangkan didalamnya, barangkali aku akan berada disuatu tempat yang indah setelah ku buka, pikiranku ini membuatku bersemangat untuk membuka pintu dapurku.
Aku membuka pintu dapurku, suara decitan pintu sangat menggangguku padahal didunia nyata pintu ini bahkan tidak mengeluarkan suara. Aku tidak memperdulikannya karena aku tau ini mimpi. Setelah pintu terbuka, aku tidak melihat apa-apa, semuanya kosong, hanya ruang persegi dengan cat berwarna putih dengan lantai kayu berwarna coklat persis seperti warna pintu. Tidak ada lampu tapi ruang tersebut sangat menyilaukan, Tidak ada kesenangan, aku berniat keluar dari ruang ini tapi ketika aku akan membuka pintu, pintunya terkunci, aku tidak panik karena jika aku terkurung diruang ini aku hanya perlu bangun.
Mata ku telah menyesuaikan dengan silaunya ruangan ini. Tepat didepan pintu masuk ada sebuah pintu lagi disebrangnya, kurasa itu pintu yang menghubungkan ke ruang dapur sebelahnya. Aku berjalan menuju pintu tersebut. Aku membukanya dan kembali suara decitan pintu terdengar nyaring ditelingaku. Ruangan kedua juga kosong, namun catnya berbeda diruang ini berwarna hitam. Ini benar-benar membosankan, aku mencoba untuk menciptakan sesuatu diruang ini, dalam pikiranku aku akan memunculkan meja, namun usahaku gagal. Tetap tidak ada apa-apa disini hanya pintu yang sama seperti diruang pertama dan aku yakin itu adalah pintu yang akan menghubungkan keruang berikutnya pula.
Aku membuka pintu ketiga, suara decitan pintu tidak lagi menggangguku kurasa telingaku telah bersahabat dengan itu. Kini ruangan berwarna merah. Aku melihat ada seseorang didalamnya, seorang pria yang mengenakan pakaian yang sama denganku. Tunggu, sepertinya aku tak menyadari pakaianku, aku tak pernah punya pakaian seperti ini. Ini terlihat seperti pakaian orang yang berada dirumah sakit, rumah sakit jiwa tepatnya bahkan kancingnya ada dibelakang. Aku menghampiri pria tersebut, ia hanya duduk disudut ruangan, merangkul kedua kakinya. Samar-samar aku mendengar ia mengatakan “Aku akan mati, aku tidak akan selamat” berulang kali dengan sedikit isakan tangis. Aku semakin mendekat dan semakin jelas terlihat wajahnya, tiba-tiba ia menoleh kearahku. Wajahnya benar-benar mengerikan, terlihat ada luka sayatan dibagian pelipis mata, dengan darah yang masih menetes membasahi pakaiannya.
Aku merasa kasihan bercampur takut melihatnya. Tiba-tiba dari arah depan ia menyerangku, aku terjatuh dengan pria tersebut menindih tubuhku. Tangannya menarik bajuku, aku dapat melihat kuku tangannya yang sangat kotor seolah habis mengais tanah. Wajahnya tepat diatas wajahku meneteskan darah dari pelipis matanya. Aku gemetar, aku ketakutan. “Kau yang akan mati, kau yang tidak akan selamat” ia mengucapkannya, seolah akan terjadi hal buruk yang menimpaku.
Pria tersebut kemudian mencekik ku, aku tidak bisa bernapas bahkan berontak, ditambah lagi ia menindih tubuhku. Aku mencoba melepaskan tangannya dari leherku, cekikannya sangat kuat. Aku memukul-mukul kepalanya, dan mencoba menghempaskan badannya, usahaku gagal. Aku menarik luka di pelipis matanya dengan sekuat tenaga, membuat kulitnya terkoyak dan sebagian dagingnya terlihat. Ia menjerit kesakitan dan saat itu juga kuhempaskan tubuhnya. Aku berdiri sambil memegangi leherku yang masih terasa sesak. Nafas ku terengah-engah.
Pria itu kembali berdiri, darah dari wajahnya semakin deras menetes bahkan kini pakaiannya berwarna merah oleh darahnya. Pria itu menatapku seakan telah siap membunuhku. Pria itu sekarang memegang pedang, bahkan dua pedang dikedua tangannya. Aku tidak melihat pedang itu sebelumnya, dari mana ia mendapatkannya. Aku berpikir apa mungkin ia yang menciptakannya sendiri. Sial, aku bahkan menciptakan meja tidak bisa. Semangatnya dapat kulihat saat ia berlari mengayunkan pedang tersebut kearahku. Bukan ini mimpi yang kuinginkan, aku hanya ingin bangun sekarang.”Banguunn, banguunnn, ayo banguuuunn” aku mengatakannya dengan keras. Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat keras, seperti baling-baling pesawat. Aku menoleh keatas, kudapati disana terdapat kipas angin raksasa yang berputar sangat kencang namun tidak mengeluarkan angin. Kipas angin raksasa tersebut tidak menempel dilangit-langit ruangan ia hanya bergantung memutar dan semakin lama semakin kebawah. Aku berlari menuju sudut ruangan, pria itu mengejarku. Aku terperangkap, kini dia siap mengayunkan pedangnya membelah tubuhku. Sebelum sempat pedang itu mengenai tubuhku, aku mendengar suara kipas angin tersebut yang semakin memekakan telinga, kipas angin tersebut tepat diatas kepala pria tersebut dan seketika tubuh pria tersebut hancur oleh kipas angin itu, darahnya mengenai tubuhku bahkan beberapa potongan tubuhnya terlempar kearah wajahku. Kipas tersebut berhenti dan kembali berputar kearah sebaliknya dan kembali menuju keatas.
Ini benar-benar mimpi terburuk, aku hanya ingin bangun sekarang. Ayolah bangun, aku terus membujuk tubuhku untuk bangun namun usahaku gagal. Aku masih terjebak diruangan yang penuh darah ini.  Aku berjalan kearah pintu terakhir. Aku gemetar ketika akan membuka pintu itu, aku takut akan terjadi hal yang lebih mengerikan diruang berikutnya. Tapi aku tidak mungkin akan berada di ruang ini, menunggu sampai terbangun atau menunggu seseorang yang tersesat sepertiku membuka pintu dan bernasib sama seperti pria tadi.
Aku memberanikan diri membuka pintu terakhir, aku membukanya perlahan. Jantungku berdetak kencang membayangkan hal buruk akan terjadi, namun setelah aku masuk keruang tersebut, aku melihat mungkin ada sekitar seratus orang berada diruang tersebut. Mengenakan pakaian yang sama, dengan percikan darah yang sama membasahi pakaian mereka. Semua orang terlihat sama-sama kebingungan dan aku mendengar beberapa orang yang mengatakan “bangun”.
Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, ini mimpiku, aku hanya perlu bangun, pikirku. Dikeramaian aku melihat seseorang yang kukenal. Seseorang yang kukenal di forum Lucid Dream. Aku menghampirinya, berniat ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku menerbos beberapa orang yang menghalangi jalanku, ruangan ini benar-benar sangat kecil untuk menampung seratus orang.
Aku berada dihadapannya sekarang, tanpa basa-basi aku langsung menanyakan apa yang terjadi namun ia terlihat kebingungan dan mengambil ancang-ancang seolah-olah akan menyerangku. Aku menanggapinya wajar setelah apa yang terjadi pada kami. Kuarasa ia tak mengenaliku, wajar saja di forum Lucid Dream aku bukan member aktif, aku hanya member pasif yang hanya membaca beberapa postingan dari member aktif, dan dia adalah salah satu admin aktif. Aku memperkenalkan diri, kemudian mengulang pertanyaanku.
“Ini bukan mimpimu, bukan pula mimpiku, atau mimpi mereka” jawabnya
“Lalu, bagaimana kau bisa sampai disini?” tanyaku penasaran
“Aku berada disebuah lift” jawabnya tegas
“Bagaimana kita bisa keluar dari sini?”
“Kita terjebak, kita tidak akan bisa keluar dari sini”
»»  READMORE...